Essai ''Relevansi Pendidikan Berbasis Edutainment Pada Film Taare Zameen Par"

Sayyidah Kamila N
0

 

Essai Tema Edutainment dalam Pendidikan Dasar

''Relevansi Penerapan Pendidikan Berbasis Edutainment Pada Film Taare Zameen Par"

Karya: Sayyidah Kamila Nafisa


Pendahuluan

Pendidikan adalah salah satu aspek penting dalam perkembangan individu dan masyarakat. Dalam beberapa dekade terakhir, pendidikan telah mengalami transformasi besar-besaran, terutama dengan munculnya pendidikan berbasis hiburan. Artikel ini akan membahas relevansi pendidikan berbasis hiburan atau yang sering dikenal dengan istilah “edutainment” dalam konteks film Taare Zameen Par, sebuah karya sinematik yang menggugah perasaan dan pemikiran. Film ini mengisahkan perjalanan seorang anak bernama Ishaan yang menghadapi kesulitan belajar, dan bagaimana pendekatan edutainment dapat membantu individu seperti Ishaan untuk tumbuh dan berkembang.

Film Taare Zameen Par telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pendidik dan masyarakat luas. Karya ini mengangkat isu-isu penting dalam pendidikan, seperti pengakuan perbedaan individual dalam belajar dan pentingnya pendekatan personalisasi dalam pengajaran. Dalam artikel ini, kita akan merenungkan bagaimana pesan-pesan yang terkandung dalam film ini dapat memberikan wawasan berharga tentang bagaimana pendidikan berbasis edukasi dapat memberikan dukungan yang diperlukan bagi siswa-siswa dengan kebutuhan khusus.

Melalui analisis mendalam terhadap film Taare Zameen Par, kita akan mengeksplorasi berbagai konsep dalam pendidikan berbasis edutainment, seperti pengenalan potensi unik setiap individu, penggunaan metode pembelajaran yang kreatif, dan peran penting empati dalam proses belajar-mengajar. Artikel ini bertujuan untuk membahas secara detail  tentang relevansi pendidikan berbasis edukasi dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dengan beragam bakat dan tantangan, serta bagaimana film ini dapat menginspirasi kita untuk meningkatkan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif dan humanis.

 

Pembahasan

A.    Pengertian Edutainment

Edutainment secara harfiah terdiri dari dua kata, yaitu education dan entertainment. Education artinya pendidikan, dan entertainment artinya hiburan. Dari segi bahasa, edutainment memiliki arti pendidikan yang menyenangkan. Sedangkan dari terminologi, “edutainmentas a form entertainment that is designed to be educational”, maksudnya adalah edutainment merupakan suatu proses pembelajaran yang dirancang untuk menggabungkan unsur pendidikan dan hiburan secara harmonis, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.[1] Apabila dianalisis lebih lanjut, seseorang cenderung melakukan apapun untuk mendapatkan hal yang disenanginya. Demikian pula dalam konteks pembelajaran, jika peserta didik merasa senang dengan proses pembelajaran yang mereka alami, mereka akan secara otomatis termotivasi untuk aktif mencari dan menguasai materi yang diajarkan, sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan lebih efektif.

Konsep belajar berwawasan edutainment mulai diperkenalkan secara formal pada tahun 1980-an dan telah menjadi satu metode pembelajaran yang sukses dan membawa pengaruh yang luar biasa pada bidang pendidikan dan pelatihan di era milenium.[2] Pembelajaran yang menyenangkan menurut konsep edutainment, dapat dicapai dengan mengintegrasikan unsur humor dan permainan ke dalam proses pembelajaran. Namun, ada juga berbagai metode alternatif lain yang dapat digunakan, seperti metode bermain peran, demonstrasi, dan penggunaan multimedia. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat mengikuti dan merasakan pengalaman pembelajaran dalam suasana yang gembira, menghibur, dan memotivasi.

Dalam konsep edutainment setiap proses pembelajaran harus menyenangkan. Oleh sebab itu, konsep edutainment menjadi salah satu terobosan dalam proses pembelajaran yang selama ini hanya dipahami sebagai proses belajar mengajar di dalam kelas. Padahal proses belajar di luar kelas dapat memacu kreativitas anak didik.[3] Belajar di luar kelas dapat mengubah paradigma berpikir anak, karena suasana pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di luar kelas, terlebih lagi nuansa pembelajaran yang diciptakan di luar kelas penuh dengan keceriaan dan kesenangan sehingga mampu membangkitkan semangat belajar anak didik.

B.    Konsep Edutainment Pada Film Taare Zameen Par

Konsep edutainment pada film Taare Zameen Par berupaya agar pembelajaran yang terjadi berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Ada empat persepsi yang menjadi landasannya, yakni:

1.     Perasaan gembira

Suasana gembira akan mempengaruhi cara otak dalam memproses, menyimpan dan mengambil informasi dengan mudah.[4] Dalam upaya menciptakan kondisi ini maka konsep edutainment mencoba memadukan pendidikan dan hiburan. Dengan konsep ini, belajar tidak lagi terasa membosankan atau sulit, melainkan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Jadi, ketika kita belajar sambil bersenang-senang, otak kita jadi bekerja lebih baik, dan kita bisa belajar dengan lebih efektif.

Dalam Film Taare Zameen Par, seorang anak bernama Ishaan merasa terkekang dan ketakutan dengan kegiatan pembelajaran. Ia mendapatkan tekanan dari guru dan orang tua, mereka tidak peduli dengan mentalitas Ishaan yang mulai menurun. Ketika kita berpikir lebih dalam, anak didik sering merasakan banyak tekanan, baik dari guru di sekolah maupun dari orang tua yang memiliki harapan yang terkadang tidak realistis untuk mencapai impian mereka yang mungkin dulu tidak tercapai.

Hal yang penting untuk diingat adalah anak didik tidak bisa belajar dengan baik jika mereka merasa stres. Pembelajaran seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan dan datang dari rasa suka serta kenyamanan tanpa adanya tekanan. Untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari stres bagi anak didik, penting bagi orang tua untuk tetap tenang, tidak menetapkan target yang terlalu tinggi, dan tidak menuntut anak melebihi kemampuannya.

2.     Mengembangkan emosi positif anak

Dalam konteks psikologi kognitif, emosi positif yang kuat dapat memengaruhi proses kognitif manusia, termasuk penyimpanan dan pemulihan informasi dalam ingatan. Fenomena ini mengacu pada pengamatan bahwa ketika subjek mengalami emosi positif yang intens selama pembelajaran, informasi yang terkait dengan pengalaman tersebut cenderung diingat dengan lebih baik dan lebih lama.[5]

Film Taare Zameen Par dengan cermat mencerminkan prinsip psikologi kognitif yang menyatakan bahwa emosi positif dapat memengaruhi proses pembelajaran. Melalui cerita yang penuh empati dan pengalaman yang kuat, film ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengajarkan kita pentingnya mendukung anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam pembelajaran mereka.

Dengan demikian, Film Taare Zameen Par menawarkan konsep edutainment yang begitu menarik. Konsep ini mengacu pada penerapan prinsip psikologi kognitif yang menyatakan bahwa emosi positif dapat memengaruhi proses pembelajaran, dan menggunakan berbagai elemen kreatif untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik dan berkesan. Dengan menggabungkan pendidikan dan hiburan dalam pembelajaran, edutainment bertujuan untuk memaksimalkan retensi informasi, meningkatkan keterlibatan siswa, dan membuat pembelajaran menjadi lebih efektif.

3.     Optimalisasi potensi

Potensi siswa adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan bakatnya dalam berbagai aspek kehidupan. Setiap siswa memiliki potensi yang unik dan berbeda, dan tugas pendidik adalah untuk mengidentifikasi, memahami, dan membantu siswa dalam mengaktifkan potensi mereka tersebut.[6]

Film Taare Zameen Par mengilustrasikan konsep edutainment dalam konteks pendidikan dengan menggarisbawahi bagaimana pendekatan ini dapat membantu mengoptimalkan potensi siswa. Dalam cerita film ini, karakter utama bernama Ishaan menghadapi kesulitan dalam belajar dan sering kali merasa terisolasi. Namun, gurunya yang bernama Ram Shankar Nikumbh, menggunakan metode edutainment dengan cerdik untuk mengubah pandangan Ishaan terhadap pendidikan. Melalui drama, penggunaan warna, dan humor, guru ini berhasil menciptakan pengalaman belajar yang penuh dengan emosi positif, membangkitkan minat dan semangat Ishaan dalam pembelajaran. Dengan pendekatan ini, film Taare Zameen Par mengilustrasikan bagaimana edutainment dapat menjadi alat yang kuat untuk membantu siswa menemukan potensi mereka yang sebenarnya, bahkan dalam situasi belajar yang sulit.

4.     Motivasi terhadap anak didik

Motivasi belajar merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.[7] Motivasi sangat penting untuk diberikan terhadap anak didik, mengingat kuantitas motivasi yang dimiliki anak didik berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, namun juga sebagai motivator belajar guna membangkitkan semangat anak didik dalam rangka meningkatkan ke-efektifan pembelajaran. Karena proses pembelajaran akan berhasil apabila anak didik mempunyai motivasi dalam belajar.[8]

Dalam konsep edutainment yang cenderung menekankan pembelajaran penuh kegembiraan, konsep ini sangat efektif untuk diterapkan pada semua kalangan. Namun di sisi lain, dalam pembelajaran tidak hanya tentang metode apa yang diterapakan, tetapi juga bagaimana seorang guru dapat memotivasi anak didik dalam belajar. Hal ini juga diterapkan dalam film Taare Zameen Par, diceritakan bahwa Ishaan merupakan seorang anak dengan kelainan disleksia, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan belajar yang menyebabkan masalah pada proses menulis, mengeja, berbicara, dan membaca. Dalam hal ini, Sang guru memotivasi dan memberikan bimbingan intensif kepada Ishaan. Bimbingan berbasis edutainment yang dilakukan Sang guru, berhasil membuat Ishaan lancar menulis dan membaca.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan berbasis edutainment dalam film Taare Zameen Par memiliki relevansi yang besar dalam konteks pendidikan modern. Film ini menggambarkan bagaimana pendidikan yang digabungkan dengan unsur hiburan dapat membuka pintu pemahaman yang lebih dalam dan membantu optimalisasi potensi anak didik. Konsep edutainment, dengan pendekatan yang kreatif dan penggunaan emosi positif, bukan hanya meningkatkan keterlibatan anak didik, tetapi juga mendorong motivasi mereka untuk belajar.

 

Penutup

Tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan konsep edutainment, khususnya dalam konteks film Taare Zameen Par, serta menguraikan empat persepsi yang menjadi landasan dari konsep tersebut. Konsep edutainment berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan dengan menggabungkan unsur pendidikan dan hiburan. Dalam tulisan ini, kami membahas bagaimana konsep edutainment memengaruhi proses pembelajaran, meningkatkan emosi positif, mengoptimalkan potensi, dan memotivasi anak didik. Dengan demikian, penulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana edutainment dapat menjadi alat yang kuat dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran dan membantu siswa menemukan potensi mereka dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan berkesan.

Kelebihan dari penerapan konsep edutainment adalah bahwa ia dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan memotivasi siswa untuk aktif belajar. Film Taare Zameen Par adalah contoh yang sangat tepat yang menggambarkan bagaimana pendidikan berbasis edutainment dapat membantu mengoptimalkan potensi anak didik dan mengatasi kesulitan belajar. Melalui kreativitas dan penggunaan elemen hiburan, edutainment membuka pintu bagi anak didik untuk mengeksplorasi potensi mereka yang sebenarnya.

Namun, ada juga kekurangan yang perlu diperhatikan dalam penerapan konsep edutainment. Salah satu kekurangannya adalah bahwa tidak semua materi pelajaran dapat diajarkan dengan cara yang menghibur. Beberapa topik mungkin memerlukan pendekatan yang lebih serius dan mendalam, yang mungkin tidak selalu cocok dengan pendekatan edutainment. Selain itu, dalam beberapa kasus, pendidikan berbasis edutainment mungkin mengalihkan perhatian siswa dari materi yang seharusnya dipelajari dengan serius. Secara keseluruhan, konsep edutainment memberikan nilai tambah dalam pembelajaran, tetapi juga perlu diterapkan dengan bijak, sesuai dengan konteks dan tujuan pembelajaran yang spesifik. Dengan memahami kelebihan dan kekurangan konsep ini, pendidik dapat mengambil manfaat dari pendekatan ini untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi anak didik.


Daftar Pustaka

Emda, Amna. (2017). Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran. Lantanida Journal, 5(2).

Faiz, Ahmad. (2022). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Program Guru Penggerak pada Modul 2.1. Jurnal Basicedu Universitas Pahlawan, 6(2).

Hamruni. (2009). Edutainment Dalam Pendidikan Islam &Teori-Teori Belajar Quantum. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Uin Suka.

Imam, Vava. (2020). Konsep Dan Aplikasi Model Pembelajaran Berbasis Edutaiment Dalam Menumbuhkan Kreativitas Anak Usia Dini. Jurnal Paramurobi, 3(1).

Suprihatin, Siti. (2015). Upaya Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro, 3(1).

Thahir, Andi. (2014). Psikologi Belajar (Buku Pengantar Dalam Memahami Psikologi Belajar). Bandar Lampung: UIN Raden Intan.

Wulandari, Apri. (2019). Pengembangan Emosi Positif Dalam Pendikan Islam Perspektif Neurosains. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 5(1).

Yanuardianto, Elga. (2018). Edutainment Menjawab Problematika Pembelajaran di Sekolah. AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 3(1).

 

 

 

 

 

 



[1] Hamruni, Edutainment Dalam Pendidikan Islam &Teori-Teori Belajar Quantum, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah Uin Suka, 2009) .

[2] Vava Imam, Konsep Dan Aplikasi Model Pembelajaran Berbasis Edutaiment Dalam Menumbuhkan Kreativitas Anak Usia Dini, (Jurnal Paramurobi, Vol. 3, No. 1, 2020), hlm. 48.

[3] Elga Yanuardianto, Edutainment Menjawab Problematika Pembelajaran di Sekolah, (AL-ASHR: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, Vol. 3, No. 1, 2018), hlm. 31.

[4] Apri Wulandari, Pengembangan Emosi Positif Dalam Pendikan Islam Perspektif Neurosains, (Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. V, No. 1, 2019), hlm. 62.

[5] Andi Thahir, Psikologi Belajar (Buku Pengantar Dalam Memahami Psikologi Belajar), “Bandar Lampung: UIN Raden Intan”, 2014, hlm. 61.

[6] Aiman Faiz, Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Program Guru Penggerak pada Modul 2.1, (Jurnal Basicedu Universitas Pahlawan, Vol. 6, No. 2, 2022), hlm. 2847.

[7] Amna Emda, Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran, (Lantanida Journal, Vol. 5, No. 2, 2017),  hlm. 175

[8] Siti Suprihatin, Upaya Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa, (Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro, Vol. 3, No. 1, 2015), hlm. 74.


Link Youtube Film "Taare Zameen Par"



Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)